Minggu, 29 Agustus 2010
MALAM "LAILATUL QODAR"
Alhamdulilah, semoga rekan2 masih semangat dlm menunaikan ibadah syaum
Ramadhan 1429 H., tahun ini.
Memasuki 10 (sepuluh) hari terakhir di bulan Ramadhan tahun ini, ijinkan
saya berbagi sesuatu terutama menyangkut 'Lailatul Qodar'
Hukum Seputar Malam Lailatul Qadar
Malam Lailatul Qadar itu jatuh pada hari ke berapa? Di dalam Al-Qur’an
tidak diterangkan pada malam ke berapa malam Lailatul Qodar itu jatuh,
tetapi di dalam hadits diterangkan bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW
beri’tikaf pada 10 hari awal di bulan Ramadhan menginginkan malam
Lailatul Qodar, kemudian beliau beri’tikaf pada 10 hari pertengahannya
dan mengatakan (yang artinya): “Sesungguhnya malam Lailatul Qodar itu
jatuh pada 10 hari akhir di bulan Ramadhan”. Beliau melihatnya dan
beliau sujud di waktu shubuh di tempat yang berair bercampur tanah,
kemudian pada malam ke-21 di saat beliau i’tikaf, turunlah hujan maka
mengalirlah air hujan tersebut pada atap masjid karena masjid Nabi SAW
terbuat dari anjang-anjang. Beliau menjalankan sholat subuh bersama para
sahabatnya kemudian beliau sujud. Anas bin Malik berkata :
‘Aku melihat bekas air dan tanah dikeningnya, maka beliau sujud ditempat
yang berair bercampur tanah.” (HR. Bukhori no.669 dan 2016, Muslim
No.1167, dan 216 dari shohabat Abu Sa’id Al-Khudri).
Hadits di atas menunjukkan bahwa malam Lailatul-Qodar pada saat itu jatuh
pada malam yang ke-21. Sedangkan para sahabat Rosululloh melihat dalam
mimpi mereka bahwa malam Lailatul-Qodar jatuh pada malam ke 27.
(HR. Bukhori no.2015, Muslim no.1165 dari shohabat Abdulloh bin ‘Umar ).
Yang shohih dari perbedaan para ulama tentang jatuhnya malam Lailatul-Qodar
pada 10 hari terakhir adalah berpindah-pindah pada setiap tahunnya,
terkadang pada tahun ini jatuh pada malam yang ke 21, kemudian pada tahun
berikutnya jatuh pada malam yang ke 29, 25 atau 24.
Adapun hikmah berpindah-pindahnya malam Lailatul-Qodar supaya orang-orang
yang malas menjalankan ibadah, mereka bersemangat untuk menjalankan ibadah
pada 10 hari terakhir di bulan Romadlon. Hikmah yang lainnya juga yaitu
agar menambah amal shalih seseorang untuk mendekatkan diri kepada Allah.
(Syaikh Utsaimin)
Tanda-Tanda Lailatul Qodar
Lailatul-Qodar mempunyai beberapa alamat atau tanda, baik secara langsung
(yaitu pada malamnya) maupun setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya).
Adapun alamat secara langsung (yaitu pada malamnya) di antaranya :
1.Sinar cahaya sangat kuat pada malam Lailatul-Qodar dibandingkan dengan
malam-malam yang lainnya. Tanda ini pada zaman sekarang hanya bisa dirasakan
oleh mereka yang tinggal ditempat yang jauh dari sinar listrik atau sejenisnya;
2.Bertambah kuatnya cahaya pada malam itu;
3.Thumaninah. Yaitu ketenangan dan kelapangan hati yang dirasakan oleh
orang-orang yang beriman lebih kuat dari malam-malam yang lainnya;
4.Angin dalam keadaan tenang pada malam Lailatul-Qodar, tidak berhembus
kencang (tidak ada badai) dan tidak ada guntur. Hal ini berdasarkan hadits
dari shohabat Jabir bin Abdillah sesungguhnya Rosululloh bersabda
(yang artinya): Sesungguhnya Aku melihat Lailatul-Qodar kemudian dilupakannya,
Lailatul-Qodar turun pada 10 akhir (bulan Ramadan) yaitu malam yang terang,
tidak dingin dan tidak panas serta tidak turun hujan?. (HR. Ibnu Khuzaimah
no.2190 dan Ibnu Hibban no.3688 dan dishohihkan oleh keduanya);
Kemudian hadits dari shohabat Ubadah bin Shomit sesungguhnya Rasulullah
bersabda (yang artinya) "Sesungguhnya alamat Lailatul-Qodar adalah malam
yang cerah dan terang seakan-akan nampak didalamnya bulan bersinar terang,
tetap dan tenang, tidak dingin dan tidak panas. Haram bagi bintang-bintang
melempar pada malam itu sampai waktu subuh. Sesungguhnya termasuk dari
tandanya adalah matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tegak lurus,
tidak tersebar sinarnya seperti bulan pada malam purnama, haram bagi
syaithon keluar bersamanya (terbitnya matahari) pada hari itu?.
(HR. Ahmad 5/324, Al-Haitsamy 3/175 dia berkata : perawinya tsiqoh).
5.Terkadang Allah memperlihatkan malam Lailatul-Qodar kepada seseorang dalam
mimpinya. Sebagaimana hal ini terjadi pada diri para shahabat Rosululloh;
6.Kenikmatan beribadah dirasakan oleh seseorang pada malam Lailatul Qodar
lebih tinggi dari malam-malam yang lainnya.
Adapun alamat setelah terjadi (yaitu pada pagi harinya) di antaranya :
Matahari terbit pada pagi harinya dalam keadaan tidak tersebar sinarnya
dan tidak menyilaukan, berbeda dengan hari-hari biasanya. Hal ini berdasarkan
hadits dari shohabat Ubay bin Kaab yang mengatakan: "Sesungguhnya Rasulullah
mengkabarkan kepada kami: "Sesungguhnya matahari terbit pada hari itu dalam
keaadaan tidak tersebar sinarnya?. (HR. Muslim no.762, 2/828);
Sumber : Disarikan dari beberapa sumber
=======================================
Malam lailatul qodar, adalah malam kemuliaan yang lebih mulia dari seribu bulan,
diperuntukkan bagi hamba2NYA yang terpilih (dirahiim), yaitu orang2 yang
beriman, istiqomah, secara tertib dan tumakninah...
Semoga kita semua yang sedang menunaikan ibadah syaum tahun ini menjadi
hamba2NYA yang termasuk yang akan terpilih untuk mendapatkan nikmatnya malam
LAILATUL QODAR, Insyaa Allah, amien yaa robbal 'aalamien.
Wallaahu a'lam bishshowab...
============================
Wassalaam,
"sebaik-baik manusia adalah yang paling banyak manfaatnya bagi orang lain"
Selasa, 03 Agustus 2010
Hukum Meminta Maaf Sebelum Ramadhan dan dalil dalilnya

Sahabat muslim, alhamdulillah pada kesempatan kali ini, kita masih diberi banyak nikmat oleh Alloh Swt. Salah satunya adalah nikmat keluangan waktu. Dengan nikmat waktu itu, alhamdulillah kita masih bisa mengkaji lagi hal-hal yang sangat berkaitan dengan dienul Islam. Yang mana hal itu sangat penting bagi kita semua, agar ilmu kita bertambah dari hari ke hari. Dan dengan begitu, kita akan semakin mantab dalam amalan Iman dan Islam kita dalam kehidupan sehari-hari.
Sahabat Muslim Ramadhan semakin dekat, setelah habis sa’ban maka tibalah Ramadhan. Bulan ampunan dan bulan penuh berkah. Banyak pula pernak-pernik, rupa-rupa, dan macam-macam tradisi yang menyertainya. Salah satunya adalah meminta maaf sebelum memasuki bulan Ramadhan. Ya, tradisi yang sangat lekat bagi kita semua.
Lalu bagaimana kedudukan hukumnya?
Jawab saya, Wallohu ‘alam. Karena saya bukanlah seorang mufti yang berkewanangan mengeluarkan fatwa atau hukum ketetapan. Hanya saja saya Insya Alloh coba meninjau dari segi dalil-dalilnya dan history (sejarah), mengapa bisa ada taradisi itu bisa ada, mendarah daging, bahkan menjadi sebuah keharusan.
Mengapa saya sebut meminta maaf sebelum Ramadhan itu tradisi?
Karena memang itu bukan sunnah yang ada dalam ajaran Islam. Dan hal itu hanya sebuah kebiasaan di suatu daerah yang terjaga secara turun menurun (mungkin begitulah defenisi tradisi). Dan akan dibahas lebih lanjut pada pembahasan kali ini.
Baiklah mari kita mulai meninjau tradisi meminta maaf sebelum Ramadhan.
Menurut hemat saya, sesuatu itu tidak mungkin ada jika tanpa sebab. Atau kata lain ada akibat karena ada sebabtnya. Begitu pun juga dengan tradisi yang sedang kita perbincangkan ini, pasti ada sebab dan musababnya.
Lalu apa sebabnya? Di mana, kapan dan siapa yang memulainya? Ada yang tahu?
Begini sahabat muslim, begitu penasarannya saya dengan sejarah ini, maka saya pun berusaha mencari infonya. Yang pertama-tama tentunya menanyakan dalil dan keterangan kepada teman-teman saya yang menjalankan tradisi ini. Hampir di setiap kesempatan saya tanyakan, offline ataupun online. Namun, sayang saya belum juga mendapatkan jawaban yang memuaskan. Alias tidak ada dalil yang qoth’i yang beliau-beliau jelaskan terkait dengan mestinya meminta maaf sebelum memasuki Ramadhan. Dan jawaban standarnya mentok pada kata, “kan meminta maaf ga ada salahnya!”
Saya pun tidak mau mendebat lagi. Akhirnya saya pun coba bertanya Mbah yang sangat pakar dalam menjawab pertanyaan. Istilahnya sekali bertanya ribuan jawaban beliau hadirkan. Ya, siapa lagi kalau bukan Mbah Google. Hehehehe!
Saya pun mulai memasukan beberapa keyword (kata kunci) untuk menemukan jawaban yang diinginkan. Well done… Masya Alloh! (artinya apa ya?). Saya mendapatkan beberapa jawaban yang masuk nominasi untuk saya kaji dan teliti lagi. Jawaban yang saya cari, berasal dari sebuah forum yang sedang membahas masalah ini (sayang saat itu saya lupa tidak mencoppy URLnya). Jawaban yang saya cari berasal dari seorang penanya
Berikut kutipan pertanyaan seputar sebelum Ramadhan tentang bermaafan.
"Saya mau tanya bagaimana derajat hadits di bawah ini, yang biasanya dijadikan dalil untuk berma'afan sebelum Ramadhan.
Ketika Rasullullah sedang berhotbah pada suatu Sholat Jum'at (dalam bulan Sya'ban), beliau mengatakan Aamin sampai tiga kali, dan para sahabat begitu mendengar Rasullullah mengatakan Aamin, terkejut dan spontan mereka ikut mengatakan Aamin. Tapi para sahabat bingung, kenapa Rasullullah berkata Aamin sampai tiga kali. Ketika selesai sholat jum'at, para sahabat bertanya kepada Rasullullah, kemudian beliau menjelaskan: "ketika aku sedang berhotbah, datanglah Malaikat Zibril dan berbisik, hai Rasullullah aamin-kan do'a ku ini," jawab Rasullullah.
Do'a Malaikat Zibril itu adalah sbb: "Ya Allah tolong abaikan puasa ummat Muhammad, apabila sebelum memasuki bulan Ramadhan dia tidak melakukan hal-hal yang berikut:
Tidak memohon maaf terlebih dahulu kepada kedua orang tuanya (jika masih ada).
Tidak berma'afan terlebih dahulu antara suami istri.
Tidak berma'afan terlebih dahulu dengan orang-orang sekitarnya.
Maka Rasullahpun mengatakan Aamin sebanyak 3 kali.
Alhamdulillah akhirnya dapat juga jawaban yang kuat untuk dijadikan dalil. Dan akhirnya saya mendapatkan juga sisi histories dari tradisi di kehidupan kita ini. Ternyata dari sinilah tradisi ini dimulai.
Oh ya, mengapa saya sebut dalilnya kuat? Karena melampirkan sebuah dalil yang berasal dari sebuah hadits. Tapi jangan cepat puas dan manut begitu saja. Nah, sekarang tugas kita adalah meninjau bagaimana kedudukan hadits tersebut dan bagaimana sarah lengkapnya.
Baiklah, yuk kita mulai meninjau hadits di atas!
Dari info yang ada dalam forum tersebut, hadits di atas bisa kita temukan dalam kitab Sifat Shaum Nabi yang disusun oleh Syekh Salim Bin Ied Al-Hilaly dan Syekh Ali Hasan Bin Abudul Hamid. Dan setelah ditinjau dan diperhatikan ternyata terdapat sesuatu yang agak membingungkan. Apa itu? Redaksi hadits yang ditulis oleh penanya di atas jauh berbeda dengan maksud maksud yang terkandung di dalam hadits tersebut.
Agar lebih jelasnya, mari kita lihat hadits lain yang semisal dengan redaksi hadits yang ditulis di atas. Hadits berikut datangnya melalui jalan Abu Hurairah :
(bahwasanya) Rasulullah SAW pernah naik mimbar kemudian berkata : Amin, Amin, Amin" Ditanyakan kepadanya : "Ya Rasulullah, engkau naik mimbar kemudian mengucapkan Amin, Amin, Amin?" Beliau bersabda. "Artinya : Sesungguhnya Jibril 'Alaihis salam datang kepadaku, dia berkata : "Barangsiapa yang mendapati bulan Ramadhan tapi tidak diampuni dosanya maka akan masuk neraka dan akan Allah jauhkan dia, katakan "Amin", maka akupun mengucapkan Amin...."
Hadit di atas bisa kita temukan dalam riwayat Ibnu Khuzaimah 3/ 192, Musnad Ahmad 2/246 dan 245, serta dalam kitab Imam Bayhaqi 2/204. Adapun asalnya hadits tersebut dalah kitab Shohih muslim 4/1978.
Atau jika sahabat muslim ingin melihat hadits yang senda, namun diriwatkan oleh sahabat lain. Sahabat muslim bisa melihatnya dalam Fadhailu Syahri Ramadhan hal.25-34 karya Ibnu Syahin.
Dan ketika cari-cari lagi hadits yang semisal ternya ada yang lebih panjang dan lebih rinci. Dalil tersebut didapatkan dari buku Birrul Walidain oleh Ustadz Yazid bin Abdul Qadir Jawas, hal. 44-45 terbitan Darul Qalam
"Artinya : Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam naik ke atas mimbar kemudian berkata, "Amin, amin, amin". Para sahabat bertanya. "Kenapa engkau berkata 'Amin, amin, amin, Ya Rasulullah?" Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Telah datang malaikat Jibril dan ia berkata : 'Hai Muhammad celaka seseorang yang jika disebut nama engkau namun dia tidak bershalawat kepadamu dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin', kemudian Jibril berkata lagi, 'Celaka seseorang yang masuk bulan Ramadhan tetapi keluar dari bulan Ramadhan tidak diampuni dosanya oleh Allah dan katakanlah amin!', maka aku berkata : 'Amin'. Kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam berkata lagi. 'Celaka seseorang yang mendapatkan kedua orang tuanya atau salah seorang dari keduanya masih hidup tetapi justru tidak memasukkan dia ke surga dan katakanlah amin!' maka kukatakan, 'Amin".
Nah sahabat muslim, sekarang sudah menyaksikan langsungkan hadits versi lengkapnya. Hadits tersebut menyatakan bahwa Celaka bagi seorang yang keluar dari bulan Ramadhan, namun orang tersebut tidak Alloh ampuni dosa-dosanya. Ya, memang benarkan kalau orang yang tidak Alloh ampuni dosanya maka akan celaka dan tercebur ke neraka. Bukahkah begitu?
Intinya maksud ucapan Malaikat Jibriel, menekankan agar umat Islam bersungguh-sungguh dalam menalankan ibadah Ramadhan den memohon ampun sebanyak-banyaknya. Suapaya dosa-dosanya diampuni oleh Alloh Swt. Karena pintu ampunan pada bulan Ramadhan Alloh bukakan seluas-luasnya. Berikut dalilnya,
"Siapa puasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala Allah, niscaya ia diampuni dosanya yang telah lalu. "(Hadits Muttafaq 'Alaih).
Maka celaka dan merugilah orang-orang yang keluar dari bulan Ramadhan sementara dosa-dosanya yang telah lalu masih menumpuk dan tidak diampuni. Padahal ia telah melewati masa yang sungguh mulia dan bisa menjadi sarana untuk memohon ampun.
Nah, begitulah maksud hadits yang diajukan oleh penanya tadi. Dan hadits tersebut tidak ada hubungannya dengan meminta maaf sebelum Ramadhan kepada orang-orang disekitar. Akan tetapi, maksudnya menekankan agar kita memohon ampunan kepada Alloh dengan sungguh-sungguh.
Alhamdulillah, pertanyaan yang mengawang-ngawang sejak lama, akhirnya terselesaikan juga.
Lalu pertanyaan berlanjut. Bagaimana hukumnya bagi orang-orang yang konsisten dan istiqomah dengan tradisi ini? Sementara tidak ada dalil yang memerintahakannya. Dan di sisi lain bukankah meminta maaf itu baik dan bagus?
Sekali lagi, saya tegaskan saya bukanlah seorang mufti yang berhak mengeluarkan fatwa atau menghukumi realita yang sedang kita hadapi. Namun, saya berusaha meninjau, dengan mengambil nash-nash yang ada dalam Al-Quran dan Hadits-hadits yang shohih.
Baiklah, setelah selesai kita membahas history dari tradisi meminta maaf sebelum Ramadhan (yang ternyata salah menafsirkan redaksi). Maka pembahasan kita agak sedikit bergeser ke hal intinya kata MINTA MAAF?
Sebab kata ini yang menjadi kunci apa yang kita bahas sekarang ini. Kan katanya bagus meminta maaf itu. Ya, saya sepakat memang bagus. Tapi yang kita bahas bukan bagus atau tidak bagusnya. Yang akan kita tinjau adalah bagaimana hal tersebut dalam Islam.
Setelah saya coba kembali ubek-ubek Al-Quran dan kitab-kitab hadits, saya agaknya sulit menemukan kata meminta maaf. Sebab dalil-dalil Al-Quran dan hadits yang saya temukan kebanyakan meruapakan anjuran untuk memaafkan. Contoh dalil-dali di bawah ini :
Jadilah engkau pema”af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma”ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.(QS. Al-A”raf: 199).
Dan
Dan hendaklah mereka mema”afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS. An-Nuur: 22)
Lalu,
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa mema”afkan dan berbuat baik maka pahalanya atas Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim.(QS. Asy-Syura: 40). Apa yang kita simpulakan dari beberapa keterangan Al-Quran di atas? Tentunya kita bisa mengambil kesimpulkan bahwa kita sebagai muslim, mestilah lebih dahulu kita memaafkan orang yang berbuat salah kepada kita walau pun orang tersebut belum meminta maaf. Itulah ciri dari akhlak mulia seorang muslim, yang selalu ikhlas dan memaafkan kesalahan orang lain.
Atau jika kita lihat hadits :
Dari Anas bin Malik ra berkata bahwa Raslullah SAW bersabda, "Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, jangan saling membelakangi, jangan saling bermusuhan, jangan saling hasud. Jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara. Tidak halal bagi seorang muslim untuk tidak bertegur sapa dengan saudaranya di atas tiga hari. (HR Muttafaq ''alaihi)
Ini adalah hadits shohih riwayat Imam Bukhari dan Muridnya Imam Muslim yang sudah tidak diragukan lagi keshohihannya Haram bagi kita bermusuhan atau sekedar diem-dieman atau lebih kerennya lagi perang dingin (eh, atau adu diem ya? Enggak taulah pilih saja, hhe) dengan saudara kita.
Lalu dalam sarah kitab subulus salam yang menjelaskan hadits tersebut, ketika sahabat bertanya sipakah yang lebih mulia dari kedua orang yang sedang bermushan? Jawab Rasul, Dialang yang mengucapkan salam terlebih dahulu. Artinya dialah yang lebih dahulu bisa memaafkan dan mengikhlasankan hatinya.
Bagaimana sahabat muslim, sudah cukup jelaskan anjuran yang ada dalam Islam? Yang mana kita harus saling memaafkan dan lebih mulia memaafkan segala kesalahan orang lain. Dan itu tidak terbatas atau dibatasi oleh keadaan dan waktu. Artinya kapan pun di mana pun, kalau bisa harus setiap saat. Begitulah Akhlaq ang Islam ajarkan.
Dan kalau mau meminta maaf itu syah-syah saja karena tidak ada larangannya.
Masalahnya bagaimana jika meminta maaf itu selalu saja dikhususkan dan kaitkan-kaitkan dengan ibadah yang sudah mahdhoh (sudah ada ketetapan syarat dan rukunnya).
Naah, yang seperti itu yang tidak boleh. Kenapa? Karena ada Qoidah Ushul menyatakan Bahwa tidak boleh mengkhususkan yang Umum. Maksudnya sesuatu yang sifatnya umum kebolehannya kemudian kita khususkan dan mestikan. Atau ditambah embel-embel pahala ini dan itu, atau yang lebih dahsyat dari itu. Itu yang tidak boleh.
Sebagai contoh kasus meminta maaf sebelum Ramadhan. Artinya itukan dikhususkan dan sangkut pautkan dengan Ramadhan. Seolah satu paket atau syarat saat memasuki Ramadhan. Padalah meminta maaf sifatnya umum dalam kebolehannya. Yang boleh dilakukan kapan saja.
Dan satu lagi, hal itu menambah-nambah dalam ibadah Mahdoh. Karena Shaum Ramdhan merupakan Ibadah yang mahdoh yang sudah diatur syarat dan rukunnya. Seperti syarat masuknya ramadhon adalah terbitnya hilal (tanggal satu). Sebagaimana hadits nabi :
“Shaumlah kamu, karena melihat hilal (tanggal 1), dan Berbukalah (lebaran) kamu karena melihat hilal (tanggal 1) .” HR. Muslim.
Jadi itulah sarat dan ritual sebelum memasuki Ramdhan (dimana tidak mesti semua orang si suatu negri melihat hilal, akan tetepi cukup ada salah seorang saja).
Maka bathilah jika memasukan meminta maaf sebelum ramdhan sebagai keharusan, atau kebiasan yang membuat diri kita merasa berdosa (atau kuarang afdhol) jika tidak meminta maaf.
Lalu apa kesimpulan saya, tentang meminta maaf sebelum ramdhan?
Pertama :
Saya memandang boleh-boleh saja jika meminta maafnya itu tidak disangkutpautkan dengan Ramdhan.
Kenapa saya berkesimpulan begitu? Karena tidak ada dalil yang melarang nya.
Sebagaimana qoidah Ushul,
“Al-Aslu fil Ahya-i Al-ibahah, hatta yakuuna dalilu litahrimiha,” Artinya asal dalam urusan dunia itu adalah boleh, sehingga ada dalil yang melarangnya.
Maaf memaafkan salah satu hablum minnanas (urusan sesama manusia) artinya urusan kedunian. Dan saya tidak mendapatkan dalil yang melarang untuk meminta maaf.
Kedua :
Namun jika meminta maafnya itu dikhususkan dan disangkut pautkan dengan ramadhan itulah yang tidak boleh. Seperti yang saya sebutkan dalil-dalilnya pada penjelasn di atas. Salah satunya adalah Qoidah ushul yang menyatakan “Tidak boleh mekhususkan sesuatu yang Umam menjadi khusus.” Atau menambah-namah dalam hal syarat dan rukun Ibadah.
Catatan ^_^ V :
Marilah kita selalu memaafkan orang-orang yang berbuat salah kepada kita, meski pun orang tersebut tidak meminta maaf. Sebab seorang pemaaf itu berhati mulia.
Alhamdulillah sahabat muslim semua. Begitulah apa yang bisa saya paparkan. Mohon dimaafkan jika ada yang tidak berkenan. Dan mohon diingatkan jika ada hal-hal yang tidak sejalan dengan ketetap Al-Quran dan sunnah. Karena saya masih butuh banyak belajar dan ilmu itu luas.
semoga bermanfaat amin...
Aquulu Qawliy Hadza. Wastagfirulloha Liy Walakum. Waawfu minkum. Walhamdulillah Hirabbil ‘Alamin.
Minggu, 25 Juli 2010
Malam Nisfu Sya’ban
Hukum Solat Dan Doa Pada Malam Nisfu Sya’ban
Petikan Fatwa Fadhilah Mufti Mesir Prof. Dr Ali Jum’ah.
Terjemahan : Ibnu Juhan Al-Tantawi
Soalan :
Apa hukum melakukan solat dan doa pada malam nisfu Sya’ban seterusnya berpuasa pada siang harinya?
Jawaban :
Malam nisfu Sya’ban merupakan malam yang barakah. Terdapat sebilangan besar dalil yang menyebut tentang kelebihan malam nisfu Sya’ban daripada hadis-hadis (nabi S.A.W) yang saling menguatkan antara satu sama lain serta mengangkat (hadis-hadis tersebut) ke darjat Hadis Hasan dan Kuat (dari segi hukumnya).
Maka mengambil berat terhadap malam nisfu Sya’ban serta menghidupkan malamnya adalah sebahagian daripada agama yang tiada keraguan padanya. Adapun keraguan yang timbul adalah disebabkan pandangan terhadap hadis-hadis yang barangkali hukumnya Dhaif yang menceritakan tentang kelebihan malam tersebut.
Antara hadis-hadis yang menceritakan tentang kelebihannya :
عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْها قَالَتْ : “فَقَدْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ لَيْلَةٍ فَخَرَجْتُ أَطْلُبُهُ فَإِذَا هُوَ بِالْبَقِيعِ رَافِعٌ رَأْسَهُ إِلَى السَّمَاءِ فَقَالَ :يَا عَائِشَةُ أَكُنْتِ تَخَافِينَ أَنْ يَحِيفَ اللَّهُ عَلَيْكِ وَرَسُولُهُ قَالَتْ :قَدْ قُلْتُ وَمَا بِي ذَلِكَ وَلَكِنِّي ظَنَنْتُ أَنَّكَ أَتَيْتَ بَعْضَ نِسَائِكَ فَقَالَ إِنَّ اللَّهَ تَعَالَى يَنْزِلُ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيَغْفِرُ لِأَكْثَرَ مِنْ عَدَدِ شَعَرِ غَنَمِ كَلْبٍ” – رواه الترميذي وابن ماجه وأحمد .
Hadis daripada Ummul Mukminin Sayidatina ‘Aisyah R.A telah berkata : “Aku telah kehilangan nabi S.A.W pada suatu malam, maka aku telah keluar untuk mendapatinya maka baginda berada (sedang berdiri di kawasan perkuburan) Baqi’ sambil mendongakkan kepalanya ke langit.lalu baginda berkata : Wahai ‘Aisyah, adakah kamu takut Allah dan Rasulnya melakukan kezaliman ke atas kamu? Berkata ‘Aisyah : Bukan demikian sangkaanku tetapi aku menjangkakan kamu telah pergi kepada sebahagian daripada isteri-isteri kamu (atas perkara-perkara yang mustahak lalu aku ingin mendapat kepastian). Lalu baginda bersabda : Sesungguhnya Allah Ta’ala telah turunkan (malaikatNya dengan perintahNya) pada malam nisfu Sya’ban ke langit dunia, lalu Allah mengampunkan dosa-doa (yang dilakukan oleh hambaNya) lebih banyak daripada bilangan bulu-bulu yang terdapat pada kambing-kambing peliharaan (bani) Kalb.”
-Hadis Riwayat Al-Tirmizi, Ibnu Majah dan Imam Ahmad.
Seterusnya,
عن مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ” يَطَّلِعُ اللَّهُ إِلَى جَمِيعِ خَلْقِهِ لَيْلَةَ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلَّا لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ ” – رواه الطبرانى وصححه ابن حبان .
Hadis daripada Saidina Mu’adz ibnu Jabal R.A bahawa nabi S.A.W telah bersabda : “Allah memandang pada kesemua makhluk ciptaanNya pada malam nisfu Sya’ban, lalu Allah mengampunkan dosa-dosa kesemua makhlukNya melainkan dosa orang musyrik (yang menyekutukan Allah) dan dosa orang yang bermusuhan.”
-Riwayat Al-Tobrani dan disahihkan oleh Ibnu Hibban.
Seterusnya,
عَنْ عَلِيِّ بْنِ أَبِي طَالِبٍ كرم الله وجهه قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : “إِذَا كَانَتْ لَيْلَةُ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ فَقُومُوا لَيْلَهَا وَصُومُوا نَهَارَهَا فَإِنَّ اللَّهَ يَنْزِلُ فِيهَا لِغُرُوبِ الشَّمْسِ إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا فَيَقُولُ أَلَا مِنْ مُسْتَغْفِرٍ لِي فَأَغْفِرَ لَهُ أَلَا مُسْتَرْزِقٌ فَأَرْزُقَهُ أَلَا مُبْتَلًى فَأُعَافِيَهُ أَلَا كَذَا أَلَا كَذَا حَتَّى يَطْلُعَ الْفَجْرُ” – رواه ابن ماجه .
Hadis daripada Saidina ‘Ali R.A bahawa Rasulullah S.A.W telah bersabda : “Apabila masuk malam nisfu Sya’ban, maka hendaklah kamu bangun pada malamnya dan berpuasa pada siang harinya, Sesungguhnya Allah Ta’ala menurunkan malaikatnya ke langit dunia pada malamnya setelah terbenamnya matahari, lalu Allah berkata : Sesiapa yang memohon keampunan padaKu maka Aku akan mengampunkan baginya, Sesiapa yang memohon rezeki padaKu maka Aku akan memberikannya rezeki, Sesiapa yang ditimpa musibah maka Aku akan melepaskannya, sesiapa yang demikian…sesiapa yang demikian …sehinggalah terbitnya fajar.”
-Riwayat Ibnu Majah.
Tidaklah mengapa seandainya membaca surah Yasin sebanyak 3 kali selepas solat maghrib secara terang-terangan dan beramai-ramai. Hal ini kerana termasuk dalam perkara menghidupkan malam tersebut dan perkara berkaitan dengan zikir ruangannya adalah luas. Adapun mengkhususkan sebahagian daripada tempat dan waktu untuk melakukan sebahagian daripada amalan soleh secara berterusan adalah termasuk dalam perkara yang disyariatkan selagi mana seseorang yang melakukan amalan tersebut tidak beri’tiqod (menjadikannya sebagai pegangan) ; bahawa perkara tersebut adalah wajib di sisi syara’ yang membawa hukum berdosa sekiranya meninggalkannya.
عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ : “كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْتِي مَسْجِدَ قُبَاءٍ كُلَّ سَبْتٍ مَاشِيًا وَرَاكِبً” – متفق عليه .
Hadis daripada Ibnu Umar R.A telah berkata : “Nabi S.A.W akan mendatangi masjid Quba pada setiap hari Sabtu samada dengan berjalan ataupun menaiki tunggangan.”
-Riwayat Imam Al-Bukhari dan Muslim.
Berkata Al-Hafiz Ibnu Hajar di dalam kitabnya (Fathul Bari) :
“Di dalam hadis ini walaupun berbeza jalan-jalan pengriwayatannya menunjukkan kepada (hukum) harus mengkhususkan sebahagian hari-hari untuk melakukan sebahagian daripada amalan-amalan soleh serta melakukannya secara berterusan.”
Berkata Ibnu Rajab Al-Hanbali di dalam kitabnya (Lathoif Al-Ma’arif) :
“Ulama’ di Syam telah berselisih pandangan dalam menyifatkan cara untuk menghidupkan malam nisfu Sya’ban kepada dua pandangan.
Pertamanya :
Adalah disunatkan menghidupkan malamnya secara berjamaah di masjid.
Khalid ibn Ma’dan dan Luqman ibn ‘Amir dan selain daripada mereka telah memakai sebaik-baik pakaian, dan mengenakan wangian serta mengenakan celak pada mata serta mendirikan malamnya dengan ibadah.
Dan Ishaq ibn Rahuyah bersepakat dengan pandangan mereka terhadap perkara tersebut dan berkata dalam masalah mendirikan malamnya dengan ibadah di masjid secara berjamaah : “Perkara tersebut tidaklah menjadi bid’ah.” Kalam ini dinukilkan oleh Harb Al-Kirmani di dalam kitab Masail nya.
Keduanya :
Sifatnya adalah makruh penghimpunan pada malamnya di masjid untuk melakukan solat serta bercerita dan berdoa. Dan tidak makruh sekiranya seseorang itu melakukan solat secara bersendirian. Ini adalah pandangan Al-Auzaie Imam Ahli Syam dan Ahli Faqeh dan ‘Alim.” -tamat
Kesimpulannya :
Maka menghidupkan malam nisfu Sya’ban sama ada secara berjamaah ataupun secara bersendirian sebagaimana sifat yang masyhur dikalangan orang ramai dan selainnya adalah perkara yang disyariatkan dan tidaklah menjadi bid’ah dan tidaklah menjadi makruh dengan syarat tidak menjadikan amalan tersebut sebagai suatu kemestian dan kewajipan.
Sekiranya amalan tersebut diwajibkan ke atas orang lain serta menghukum kepada mereka yang tidak mengikutinya dengan hukum berdosa maka menghukumkan dengan hukum dosa itu yang menjadi bid’ah kerana mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah dan RasulNya S.A.W. Inilah makna yang menjadikannya makruh sebagaimana pandangan para salafussoleh terhadap hukum makruh dalam menghidupkan malam nisfu Sya’ban. Adapun menghidupkan malamnya sebagaimana hakikat asalnya maka perkara tersebut adalah disyariatkan dan tidaklah menjadi makruh.
Sumber :
Majalah Minbar Al-Islam, keluaran tahun ke-(68), bil (8) Sya’ban 1430, m/s 136.
Sabtu, 24 Juli 2010
WANITA SHOLEHAH
Assalamu'alaikum...wr wb....
Wanita Solehah…
Wanita solehah itu aurat dijaga,
Pergaulan dipagari,
Sifat malu pengikat diri,
Seindah hiasan di dunia ini
Keayuan wanita solehah itu
tidak terletak pada kecantikan wajahnya,
Kemanisan wanita solehah,
tidak terletak pada kemanjaannya,
Daya penarik wanita solehah itu,
Bukan pada kemanisan bicarany yang mengoncang iman para muslimin,
Dan bukan pula terletak pada kebijaksanaannya bermain lidah,
memujuk rayu,
Bukan dan tidak sama sekali..
Kepetahan wanita solehah,
Bukan pada barang emas atau perihal orang lain,
Tapi pada perjuangannya meningkatkan martabat agama.
Nafsu mengatakan wanita cantik dengan paras rupa yang indah bak permata yang menyeri alam,
Akal mengatakan wanita cantik atas kemajuan dan kekebalannya dalam ilmu serta pandai dari segala aspek,
Hati menyatakan kecantikan wanita hanya pada akhlaknya..
Itupun seandainy hati itu bersih untuk menilai.
Wahai wanita jangan bangga dengan kecantikan luaran,
Krena satu hari nanti ianya akan lapuk di telan zaman,
Tetapi jaga dan peliharalah kecantikan dalaman,
Agar diri ini bersih dan sentiasa mendapat Rahmat Ilahi..
Wahai wanita jangan berbangga dengan ilmu duniawi yang kau kuasai,
Karena ada lagi manusia yang lebih berpengetahuan darimu,
Wahai wanita jangan pula berdukacita atas kekurangan dirimu,
Karena ada lagi insan yang lebih malang darimu.
Wahai wanita solehah jangan dirisau akan jodohmu,
Karena muslimin yang bijaksana itu tidak akan terpaut pada wanita hanya kerana kecantikannya,
Bersyukurlah diatas apa yang ada,
Serta berusaha demi keluarga, bangsa dan agama...
wallahualam:)
Selasa, 20 Juli 2010
ARTI HIDUP
Assalamualaikum...wr wb....
Cerpen (Cerita pendek)
Judul : Arti hidup
ARTI HIDUP
Bagai katak di ujung tanduk. Itu adalah keadaanku sekarang. Berjuta pikiran melayang dalam angan tanpa bayang. Antara racun, obat, caci maki, dan duri-duri tajam yang menyerang. Entah kapan ini akan berakhir. Atau akankah memang bisa berakhir. Tapi mungkin saja akan segera berakhir jika aku mengakhirinya sekarang. Haruskah ada strategi utama dan paling berbahaya? Sungguh, hari panjang yang melelahkan. Aku harus memutuskan satu hal yang akan merubah seluruh kehidupan.Hari ini ulang tahunku ke-14 Tapi siapa peduli. Jangankan kado, ucapan selamat saja tertutup rapat dari mulut orang-orang yang mengenalku. Bukan hal aneh bila itu terjadi. Mana ada orang dengan ikhlas memberikan hadiah, meski sebenarnya sangat kuharapakan, begitu saja melemparkannya ke arahku. ”Anak cacat tak pantas mendapatkannya ”, bisa jadi mereka akan mengatakan itu.
Lagi-lagi suara menggelegar, ”To, mbok ya ngamen sana! Cari duit yang banyak! Jangan jadi anak males!”
Seperti biasa sambil membawa sapu lidi, ibu menakutiku, mungkin juga siap memukulku jika aku membantah. Bahkan, untuk menatapnya saja aku malas. Malas karena bosan dengan segala ocehan yang menyurutkan setiap langkahku.
”Iya Bu, tapi aku lagi cape. Tadi kan habis potong kayu.”
”Eh… ga usah alesan.”
Kalau sudah begini aku, suasana rumah seperti kayu yang sedang dibakar. Panas. Hingga penghuninya ingin keluar mencari angin. Tentu saja angin segar.
”Bu, saya bener-bener cape.”
”Kamu tu ya, disuruh gitu aja ngga mau.”
”Bu, kapan Ibu ngerti keadaanku.”
”Dah ga usah jadi anak manja. Mau pergi ngga!” Ibu mengangkat sapu dengan tatapan penuh amarah.
Tak pantas aku menyebutnya Nenek Lampir. Bagaimanapun dia seorang wanita yang telah rela mengadungku sembilan bulan, melahirkanku dengan bertaruh nyawa, dan kini harus membesarkan anak cacat.
”Kenapa kalo Adi atau Tani yang sakit, Ibu pasti cemas. Ibu akan pergi ke warung cari obat. Tapi kalo aku yang sakit, jangankan tanya kenapa, malah ngomel-ngomel ngga dapet uang. Bukannya aku juga anak Ibu.”
”Mau kamu tu apa ? Hidup kita itu lagi susah. Apalagi kamu kayak gini. Emang apa kata orang nanti. Udah miskin, punya anak cacat lagi.”
” Jadi ibu nyesel punya anak sepertiku.”
”Mana ayahmu yang penggangguran itu. Dia ngga pernah datang.”
Aku menunduk sejenak. Apa yang dikatakan Ibu memang benar. Ayah tidak peduli lagi denganku. Semua tampak asing. Mereka orang tuaku, tapi nampak makhluk dari planet lain.
”Ya, aku ngerti semuanya sekarang. Aku pergi!”
Aku berlalu meninggalkan Ibu yang masih mengangkat sapu. Ingin sekali aku berlari sekencang kilat. Tapi apa dayaku. Aku hanya punya satu kaki. Akibat kecelakaan itu. Ketika aku berlari karena dimarahi ibu, aku tertabrak mobil. Kaki kiriku diamputasi. Kini, hanya tongkat kecil sebagai teman membantuku berjalan. Melangkah, menapaki setiap kehidupan.
Teriakan ibu membuatku berpikir lebih dalam tentang arti hidup. Aku pernah melihat jurang sedalam tiga ratus meter. Begitu mengerikan, tapi lebih mengerikan lagi di dalam rumah. Dengan gitar kecil pemberian sahabatku, Eri, sebelum ia pergi melanjutkan sekolah di tanah kelahirannya, Bukittinggi, Sumatra Barat, aku menjadi pengamen remaja yang malang. Anak cacat yang tak pernah diurus orang tuanya.
” Oh….kapan teriakan itu terhenti. Akankah Ibu sadar bahwa aku butuh kasih sayang bukan makian atau perintah setiap hari. Bukan aku benci Ibu, hanya saja aku sadar Ibu tak suka padaku. Kecacatanku ini terlalu membuat Ibu susah,” pikirku.
Aku menelusuri jalan-jalan. Menerobos keramaian kota Yogyakarta. Dengan lagak pengamen, aku bernyanyi lagu tentang keceriaan seorang anak bersama orang tuanya. Aneh, semua lagu bertemakan dunia bahagia. Sedangkan keadaanku sebaliknya. Ini bukan pekerjaan. Tapi derita keseharian. Lihat saja penampilanku. Baju kumal yang jarang dicuci. Kalau pun sampai dicuci, tidak dengan air kran atau air sumur. Air sungai keruh telah menjadi tempat laundry bagiku dan teman-teman seperjuangan. Memang bajuku dicuci, tapi malah semakin kumal akibat lumpur sungai yang melekat menutupi pori-pori kain. Lain lagi dengan tubuhku. Badan kurus kering bagaikan anak kekurangan gizi. Tak khayal, banyak julukan untukku akibat bentuk tubuh ini. Kadang teman-teman memanggilku Cungkring, Garing, atau Krempeng. Aku menerima saja. Kalau dibilang marah. Aku sungguh terhina dengan julukan itu. Akan tetapi, jika dilihat dari keadaanku, memang begitu keadaannya.
Temanku banyak mengamen di bus-bus yang lewat. Berbeda denganku. Aku hanya keliling sehingga uang yang kudapat lebih sedikit. Bagaimana mungkin aku akan naik bus. Berjalan saja sudah sulit apalagi pakai tangga segala. Aku tahu pasti ada orang yang membantu. Tapi apakah kita harus selamanya bergantung pada pertolongan orang lain. Padahal, kita masih sanggup mengerjakannya sendiri. Sepreman-premannya orang pasti mereka punya rasa kemanusiaan bagi sesama. Apalagi untuk anak sepertiku.
Tibalah aku di depan rumah mewah. Menyanyi semerdu mungkin agar orang yang mendengarnya merasakan apa yang ingin kusampaikan. Meski sebenarnya lagu itu hanya untuk menyemangati hidupku yang sedang galau.
Hidupmu indah
bila kau tahu,
jalan mana yang bena...ar
harapan ada
harapan ada
bila kau percaya
Seorang pembantu rumah tangga yang sudah kukenal, keluar lewat samping rumah. Ia memberiku dua keping lima ratusan dan sebungkus nasi.
”Terima kasih, Bi”
”Iya, Bibi tahu kamu belum makan. Cuma ada tempe sama sambal.”
”Ini sudah lebih dari cukup, Bi. Dari baunya saja, hemmm…….. pasti lezat. Ya udah Bi, saya pergi dulu.”
”Hati-hati. Jaga kesehatan. Kalau kamu lapar, bilang saja ke Bibi.”
”Ya Bi. Assalamu’alaikum.”
”Wa’alaikumusssalam.”
Aku jadi bahagia setelah bertemu Bi Minah. Bukan karena aku dapat uang dan makanan, tapi aku bisa bertemu dengan orang yang sangat menyayangiku. Bi Minah punya tiga anak di desa. Semuanya sudah bekerja sebagai buruh pabrik. Saat teristimewa baginya adalah berkumpul dengan semua anggota keluarga. Namun malangnya, ia harus berjuang sendiri setelah suaminya meninggal akibat kecelakaan tujuh tahun yang lalu ketika mengantarkan Bi Minah ke pasar. Peristiwa itu selamanya tak bisa dilupakan. Sama halnya dengan kejadianku saat itu. Bedanya, Tuhan masih memberiku kesempatan untuk tetap hidup.Walau kaki kiriku harus diamputasi. Makanya, Bi Minah sangat sayang padaku.
* * *
Sambil makan, aku mengkhayal tentang dunia impian. Menjelajahi naluri seorang manusia. Berimajinasi setinggi mungkin. Adakalanya, mimpiku terlampau tinggi. Ini membuatku tersenyum sesaat. Lalu kembali ke dunia nyata. Aku sadar bahwa itu bukan duniaku sekarang.
”Seandainya ibuku mengerti persaanku, pasti aku akan betah tinggal di rumah. Sekolah, bukan ngamen. Cukup belajar dan belajar,” khayalku mulai bergerak cepat.
Tiba-tiba, ”Wei, To, dari mana aja lu! Dapet duwit berape? Wah, makan siang nih!” kata Olen, membuyarkan semua lamunanku.
Khayalanku hilang seketika. Gertakan Olen membuat suasana sepi menjadi ramai. Olen langsung saja menyantap makanan. Ia memang seperti itu. Walau kelakuannya kadang kurang mengenakkan, tetapi hatinya sangat mulia. Apalagi dengan temannya yang sedang tertimpa musibah. Jika ia seorang prajurit, pasti ia sudah berada di barisan paling depan. Dia berbeda nasib denganku. Hubungan dengan orang tuanya sangat dekat. Sekarang Olen berumur 18 tahun. Ia duduk di kelas 2 SMA Nusa Bakti. Olen mengamen hanya untuk bermain. Sedangkan bagiku, mengamen adalah mata pencaharian. Kalau sedang malas ngamen, aku jualan koran atau jadi tukang bersih kaca mobil di jalan.
” Dari Bi Minah lagi. Besok minta dua ya? ” kata Olen.
”Ah lu, malu dong. Dikasih aja ngga enak, apalagi minta. Bi Minah kan juga susah kayak kita. Nih buat lu aja, gue dah kenyang.”
”Beneran ? Gue makan ya.”
”Yoi!”
Tanpa cuci tangan, Olen langsung menyantap semua makanan. Tak peduli ada kotoran atau tidak yang menempel. Padahal, ia selalu bermain di jalanan. Entah berapa kali ia sakit perut gara-gara ulahnya ini. Walau mulutnya penuh dengan nasi, tetap saja ia menyempatkan diri untuk ngobrol.
”Lu lom jawab pertanyaan gue. Dapet berapa jute gini hari?”
”Dikit, nih cuma lima ribu.”
Tangan Olen menyodorkan uang lima ribu untukku. Kebisaannya ini paling kubenci. Aku tahu, aku memang sangat butuh uang, tapi tidak mungkin aku tega mengambil hasil jerih payahnya seharian.
”Buat lu.”
”Apaan ni. Ngga usah.”
”Gue marah ni kalo lu ngga mau.”
”Len, lu lebih butuh ini buat sekolah.”
”Bokap gue ngga bakalan buat gue kelaperan.”
”Ah masa. Ko makannya lahap gitu. Jangan-jangan lu ngga dikasih makan ama ortu lu.”
”Sapa bilang? Gue emang lom makan tadi pagi. Tapi bukan karna gue ngga dikasih makan. Gue tadi bangun kesiangan jadi ngga sempet sarapan.”
”Trus napa ngga langsung pulang? Malah ikut ngamen segala.”
”Buat ketemu elu-elu pade. Emang ngga kangen, kalo gue ngga ada.”
”Kangen ama nenek moyang lo!”
”Ni ambil !” Olen menyodorka uang lima ribu ke arahku.
”Lain kali aja Len , kalo gue butuh uang. Lu tabung aja dulu.”
”Ya udah deh. Gue ngga maksa. Tapi kalo lu butuh, ngomong gue aja ye.”
“Okelah. Wei, dah sore, gue cabut dulu ya.”
“Hati-hati.”
”Da…”
Aku pun meninggalkan Olen yang masih makan. Sebenarnya aku ingin menceritakan masalahku dengannnya. Namun, aku berusaha hidup lebih dewasa dalam masalahku sendiri. Tak tahu kapan badai ini surut. Aku hanya yakin, aku bisa hadapi semua.
* * *
Rumahku cukup mungil. Kami tinggal berlima. Ibu, dua adik, dan ayah tiriku. Saat aku berumur 7 tahun. Ibu minta cerai dari ayah kandungku. Alasannya karena Ayah sering mabuk dan main judi. Utangnya pun melimpah. Akhirnya Ibu minta cerai. Setelah itu, jarang sekali Ayah mengunjungiku. Tidak pernah tanya kabar. Apalagi saat kecelakaan, Ayah seperti menghilang. Aku sempat menanyakan keberadaan Ayah pada beberapa anggota keluarga. Namun, mereka tidak ada yang tahu Benarkah Ayah tak mau lagi melihatku. Apakah ia sangat menyesal dengan kondisiku yang cacat. Mungkin aku memang memalukan.
Aku pulang dengan berjuta perasaan. Antara marah, lelah, dan lapar. Semua membuatku tak nyaman masuk rumah. Apalagi kalau Ibu marah lagi.
” Mana uangnya ?” tanya Ibu saat aku baru tiba di depan pintu.
” Ini,” kataku sambil mengeluarkan uang dari saku.
”Segini!”
” Aku cape, Bu.”
”Bilang aja males. Ngga usah buat alesan.”
”Masa cuma lima ribu. Jatah makan siang kamu terpaksa diundur jadi makan malem.”
Tanpa pikir panjang aku segera masuk kamar. Ruangan kecil ukuran 3 meter x 3 meter. Dulu kamarku ini adalah gudang. Setelah Adi dan Tani, adik tiriku semakin besar, kamarku diberikan untuk mereka sehingga aku harus membersihkan gudang sebelum menempatinya menjadi kamar. Atapnya berlubanng dengan diameter dua sepuluh centimeter. Makanya, kalau hujan aku harus siapkan ember. Lantainya beralaskan tikar bambu. Tanpa bantal dan selimut. Hanya sarung robek yang setia melindungiku dari dingin sekaligus kain untuk solat walaupun itu jarang kulakukan. Bukan karena aku tidak mau mengerjakan perintah Tuhan. Aku sadar Tuhan pasti selalu melihatku. Akan tetapi, aku tidak tahu bagaimana caranya solat apalagi baca Al Quran yang benar. Orang tuaku belum pernah mengajari. Aku belajar agama dari buku-buku bekas di pasar loakan, kertas-kertas yang beterbangan di jalan atau tanya teman yang lebih pintar.
Pintu kututup rapat-rapat. Lalu tidur dengan mata terbuka dan perut keroncongan. Aku mencoba mencari cara untuk lepas dari teriakan ibu. Bagaimanapun juga aku adalah anaknya, bukan musuhnya. Ya, meskipun Ibu telah mempunyai anak dari laki-laki lain yang telah menjadi ayah tiriku. Ayah baruku ini sama dengan Ibu. Bahkan lebih ganas. Penderitaanku bertambah karena Adi dan Tani sangat manja. Mereka selalu minta barang-barang mewah. Hidup boros layaknya orang kaya yang serba ada. Padahal, ayah tiriku hanya supir angkot. Aku pernah minta uang padanya. Dan itu untuk pertama sekaligus terakhir. Karena ia marah-marah. Katanya, aku hanya bisa menyusahkan orang saja. Perkataannya itu membuat ceriaku luluh lantak. Hentakan hebat berhasil merobohkan tiang-tiang ketegaranku. Sejak saat itu, aku tak lagi minta uang. Aku berusaha mencari pekerjaan. Tapi untuk seorang anak cacat sepertiku, adakah pekerjaan yang bisa kulakukan layaknya orang normal? Hanya mengamen yang ada dalam otak. Meski hasilnya tidak seberapa, aku masih punya banyak teman yang bisa membantu. Betapa tersiksa dengan keadaanku sekarang. Hidup satu rumah bersama monster-monster yang setiap saat bisa mematahkan sel-sel tubuh tawamu.
Jam dinding menunnjukkan pukul 9 malam.
”Prakk..!” Ibu membuka pintu kamar dengan keras.
” Ni jatahmu! Habis makan cuci semua alat dapur yang masih kotor.”
” Lo kok aku lagi.”
”Kamu mau dipukul, ha !”
”Iya Bu.” Tiga detik. Aku menyesal mengatakan itu.
”Ingat harus bersih. Jangan sampe sabun berceceran kayak kemaren.”
Aku cemberut. Marah. Kesalnya bukan main.
”Mau dipukul lagi!”
”Ya. Pukul aja. Aku dah kebal dengan pukulan itu. Ngga mempan!”
”Dasar anak kurang ajar! Pokoknya kalo nanti belum bersih semua, kamu tahu akibatnya,” ancam Ibu.
Keadaan ini membuat hidupku seakan tak berharga. Ibu pergi meninggalkan aku yang masih pusing. Tak ada senyum.Yang ada hanya wajah penuh geram. Aku duduk di pojok kamar. Nasi itu tak sempat kusentuh. Pikiranku menjurus satu cara.
”Aku harus pergi sekarang. Ngga mungkin aku hidup seperti ini selamanya. Jalanku masih panjang.”
Kuputuskan untuk pergi. Semua baju aku masukan dalam sarung, lalu kuikat keempat sudutnya. Aku melihat situasi. Suasana sepi. Kamarku memang terletak paling belakang. Itulah kenapa walaupun aku berteriak belum tentu mereka dengar. Orang-orang sedang nonton TV. Aku keluar lewat jendela dapur. Bebaslah jiwa dari penjara kegelapan. Dunia tersenyum bangga padaku.
”Selamat datang kebebasan. Benar apa kata Soekarno bahwa cintailah perdamaian tapi lebih cintailah kemerdekaan. Aku tahu ini pilihan hidup yang sangat sulit. Namun, aku rasa masih banyak orang-orang yang lebih suram hidupnya daripada aku.”
Jam dinding selalu kubawa kalau pergi jauh. Walau anak jalanan tapi aku kenal waktu. Setiap detik hidup harus bernilai bagiku. Hidup hanya sekali. Tak peduli apa kata orang tentangku. Aku harus tetap melangkahkan kaki. Mungkin saat ini aku gagal dalam mencari kebahagiaan. Namun, tidak untuk besok karena aku yakin bahagia akan datang menghampiri. Aku akan memenangkan pertempuran ini.
Hari mulai cerah. Secerah senyum yang kupaparkan pada dunia. Tidur di pinggir jalanan ternyata tidak enak. Selain banyak nyamuk.Udara dingin membuatku sakit kepala. Setelah mencuci muka di sungai, aku melanjutkan perjalanan. Sampai di sebuah masjid aku disambut seorang kakek berjenggot putih. Walau sudah tua, senyumnya seperti masih muda. Ia heran melihat kedatanganku.
”Dari mana Nak ? Kau mau ke mana?”
”Saya dari sana,” tanganku menunjuk arahku datang.
”Sekarang masih jam 3 pagi, di mana rumahmu? Sepertinya kamu bukan anak sini,” Kakek melirik jam dinding yang kubawa.
”Saya….saya dari sana,” tanganku kembali menunjuk arah yang sama.
”Dari sana? Sananya mana ?”
”Anu, saya….saya sendiri Kek.”
Akhirnya kami duduk di mimbar masjid. Serangkaian kisahku terukir. Kakek itu terlihat sangat antusias mendengarkan ceritaku. Beberapa kali ia bertanya. Aneh, meski baru kenal kami sudah sangat akrab. Ia jelmaan orang yang selama ini aku tunggu. Orang yang bersedia mendengarkan keluh kesah hidupku. Tak pernah kutemui orang seperti kakek ini. Begitu bijak ia memberi nasehat.
”Siapa namamu?”
”Saya Toto Iskandar.”
”Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang ?” tanya Kakek.
”Aku tidak mau menjadi air yang mengalir. Aku ingin menjadi arus. Hidup dengan kemauan sendiri. Tanpa paksaan. Tanpa teriakan orang-orang yang menyuruhku ini itu. Bolehkah aku bertanya Kek, apa arti hidup itu?”
”Hidup. Hidup adalah tentang bagaimana kita menghargai pemberian orang lain, mencintai apa yang menjadi milik kita, proses bagaimana kita menyelesaikan tugas di dunia, mencari bekal untuk nanti di akhirat, menerbangkan imajinasi kita untuk terus berkarya, dan masih banyak arti hidup yang lain. Semua itu akan kau temukan ketika kau menjalani kehidupan. Jangan biarkan dirimu dipermainkan oleh hidup, tapi kau harus bisa merasakan hidup.”
”Lalu apa itu bahagia ?”
”Kakek rasa, kau pernah merasakannya. Bahagia. Sulit dijelaskan. Bahagia akan datang karena kau merasa bahwa sekaya-kayanya, semiskin-miskinnya, sesukses-suksesnya, sehancur-hancurnya, sebodoh-bodohnya, sehebat-hebatnya orang itu, mereka MEMERLUKANMU.”
Aku mencoba menyerap ucapannya. Meski bingung, aku mulai mengerti.
” Terima kasih atas jawaban Kakek.”
”Lebih baik kamu pulang dulu dan selesaikan masalahmu dengan Ibu. Atau perlu Kakek bantu.”
”Tidak usah Kek. Mungkin saya bisa sendiri.”
”Kamu yakin ?”
Aku mengangguk. Anggukanku itu penuh tanda tanya. Apakah aku bisa hadapi semua sendiri atau tidak.
”Kalo begitu, ayo solat sama Kakek!”
”Saya belum hafal doanya, Kek. Lagi pula saya tidak tahu bagaimana caranya solat yang benar. ”
”Solat tahajud namanya. Tidak apa-apa, kamu sering-sering saja ke sini. Nanti Kakek ajarin. Kamu boleh menggunakan bahasa apa pun yang kamu bisa. Tuhan Maha Mendengar.”
Sebelum masuk masjid aku berkata, ”Kakek, aku punya dua permintaan.”
”Apa itu?” langkah Kakek terhenti.
”Bolehkah aku memeluk Kakek? Aku tidak punya Kakek selama ini.”
”Tentu, kau juga akan punya banyak Kakek suatu hari nanti.”
Aku segera memeluknya. Merasakan kedamaian yang selama ini belum aku temukan. Kasih sayang.
Inikah bahagia itu Tuhan? Aku berhasil menemukannya. Aku telah menang.
Kupeluk kakek itu sangat erat. Tak ingin aku melepaskannya. Hingga tangisku pun meledak.
”Lalu apa permintaanmu yang kedua ?” tanya Kakek sambil membalas pelukanku.
”Bolehkah aku tinggal sehari saja di rumah Kakek.”
Aku melepaskan pelukannya untuk menatap mata yang sudah keriput.
”Iya, kamu boleh tinggal bersama Kakek kapanpun yang kamu mau.”
Banjir bandang meluap. Membasahi pipi. Kupeluk lagi tubuh yang sudah renta itu dengan sangat erat. Erat sekali. Kemudian Kakek mengusap rambutku. Seandainya tadi aku keramas pakai sampo, pasti aku takkan malu karena rambutku yang berminyak dan bau ini. Tangan yang selalu kurindukan. Kedamaian terus mengalir dalam kalbu. Laksana tanah gersang yang tersiram air hujan. Termasuk amarahku pada Ibu. Tak ingin aku berpisah darinya. Ternyata Tuhan masih menyayangiku meski aku semakin jauh dari-Nya.
Kami pun masuk masjid. Mengambil air wudhu dan solat bersama. Kakek mengajariku banyak hal. Ilmu yang selama ini belum pernah aku dapatkan, dalam waktu singkat telah berada di dekatku. Aku sangat bersyukur. Ini adalah keajaiban Tuhan untukku. Aku memang cacat. Namun, di balik kekuranganku, ada banyak kebahagiaan yang jauh lebih berharga. Mengapa selama ini aku selalu mengeluh? Betapa bodohnya aku. Ini bukan Toto Iskandar. Aku harus berubah. Aku masih punya kaki satu untuk berjalan, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan kedua tangan ini masih bisa kugerakkan.
Selama dua hari di rumah Kakek, aku sangat senang. Aku pun tahu kalau nama kakek itu adalah Kakek Soleh. Kakek pernah bercerita bahwa sebelum istrinya meninggal, ia berpesan jika suatu hari Kakek bertemu dengan orang yang sedang susah, ia harus sebisa mungkin membantunya. Karena ingat pesan itulah, Kakek berusaha membantuku. Kakek punya dua anak perempuan. Karena sudah menikah, mereka hidup bersama keluarga sang suami. Kakek juga pernah diajak untuk ikut, tapi ia tidak mau sebab baginya rumah ini adalah tempat terindah. Banyak kenangan manis yang harus ia jaga. Sebisa mungkin aku berusaha membantu Kakek. Pergi ke ladang. Mencabuti rumput dan menanam palawija. Hasil panennya sebagian dijual untuk membiayai hidup. Kakek juga sering membuat makanan kecil seperti singkong rebus dan lalaban untuk dibawa ke masjid. Biasanya saat kajian rutin. Aku belajar bagaimana ia menjalani hidup.
Lima hari yang indah itu akan menjadi pengalamanku paling berharga. Setelah berpamitan dengan kakek, aku memutuskan untuk pulang. Kembali ke rumah yang dulu kuanggap neraka. Entah kekuatan apa yang mendorongku ke sana. Tiba di gang menuju rumah, aku tampak ragu. Aku ingat bagaimana Ibu menungguku di pintu sambil berdiri dan bersiap memarahi. Kutarik nafas dalam-dalam. Lalu kukeluarkan perlahan. Tekad bulat masih tetap kokoh. Langkahku maju. Ingin aku membuka pintu yang telah lama kutinggalkan. Pintu yang sering Ibu pukul-pukul saat marah. Dengan perasaan was-was aku menapaki setiap turbin halaman rumah. Suasana sepi. Tiba-tiba ada tiga orang tetangga keluar dari dalam. Terlihat juga Adi dan Tani yang sedang merapikan baju yang keluar dari tas yang dibawa mereka. Aku langsung mendekati mereka menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.
”Eh, ada apa, Di?”
”Elu To. Masih inget rumah ini juga.”
”Ibu jatuh dari tangga. Dan sekarang ada di rumah sakit.”
”Apa ! Ibu…….. Aku ikut kalian.”
”Terserahlah, ikut juga boleh asal ngga nyusahin aja,” jawab Tani.
Aku tahu mereka tak menyukaiku sejak dulu. Hal itu wajar karena memang aku bukan kakak kandung mereka. Meski begitu, sebagai kakak aku tetap mecoba bersabar. Menunggu saat mereka mau memanggilku ” Kakak”.
* * *
Sampai di rumah sakit kulihat Ibu yang terbaring lemah. Wajahnya pucat. Matanya tertutup rapat. Ayah, Adi, Tani, dan beberapa tetangga menatapku. Arah pandangan penuh keheranan dan kebencian. Namun, aku tak peduli dengan reaksi itu. Yang kupedulikan hanya keadaan Ibu sekarang.
”Ibu, maaf. Memang anak durhaka sepertiku ini, tidak pantas untukmu. Tapi asal Ibu tahu, aku sangat menyayangi Ibu.”
Senyumku melebar. Ternyata Ibu membuka mata. Ada suara kecil. Kudekati.
Aku mendengar ia bercerita, ”To, kamu harus tahu, kalau…..kalau sebenarnya, kamu bukan anak kandung Ibu. Dulu ayahmu pernah menikah dengan wanita lain. Lalu ibumu pergi meninggalkan kalian karena ayahmu bangkrut. Saat itu, kamu baru berumur enam bulan. Dan akhirnya…..ayahmu menikah lagi dengan Ibu.”
”DEG”
”Apa. Apa ini. Lelucon seperti apa yang baru aku dengar barusan.”
Kalimat ibu terhenti karena oleh iask tangis. Aku pun larut dalam nuansa yang sama. Ibu juga tampak menahan rasa sakit.
”Betulkah cerita ini?” Hatiku mulai bimbang.
”Ibu juga sayang kamu. Maafkan kesalahan Ibu ya,” Ibu melanjutkan ucapannya.
”Ibu, kau tetap Ibuku.”
Menangis. Menangis lagi. Kenapa Ibu terlalu banyak menangis. Air matanya semakin deras. Lalu segera kupeluk Ibu.
Jantungku terasa berhenti berdetak. Petir yang menyambar membuatku sejenak tak sadar bahwa aku masih hidup. Apa yang terjadi? Aku tak paham satupun. Atau aku sudah sangat paham. Sekarang aku tahu mengapa Ibu lebih sayang Adi dan Tani yang merupakan anak kandungnya sendiri.
Tiba-tiba Ibu berteriak kesakitan. Orang-orang di sekitarku panik. Tak tahan dengan keadaan ini, aku keluar menuju ruangan dokter dengan susah payah karena kakiku yang cacat.
”Dokter! Tolong ibuku!” teriakku sambil berlari kencang.
Walau hanya dengan sebuah tongkat, tapi benda ini sangat membantuku berlari semakin kencang. Beberapa kali aku jatuh, tetapi kembali berdiri. Seluruh orang di rumah sakit ikut panik. Aku langsung menarik tangan seorang dokter yang baru kulihat.
”Ada apa ini. Tunggu dulu!”
”Cepat Dok!”
Tanpa peduli permintaanya aku tarik kuat-kuat tangan itu.
”Tolong Ibu, kumohon,” kataku sambil terus berlari menuju kamar ibu terbaring.
Betapa kagetnya aku. Tubuh Ibu telah tertutup kain putih. Semua orang di sekitarnya menangis.
”Tuhan, kenapa Kau ambil ibuku sekarang.”
Dunia tampak gelap. Aku pun jatuh dan tak tahu apa yang terajadi selanjutnya.
Pemakaman berlangsung lambat. Selambat langkahku meninggalkan makam yang masih merah itu. Tak ada keceriaan lagi. Aku kehilangan semua. Lemas. Terlalu sakit untuk menyadari bahwa Ibu telah menghilang. Dia pergi ke dunia asing. Tapi, suatu hari nanti aku juga akan ke sana. Dunia abadi yang sebenarnya. Akhirnya aku kembali ke rumah Kakek. Tinggal bersama orang yang menyayangiku. Mencari ilmu setinggi-tingginya tentang arti hidup.
BERATNYA COBAAN & DUGAAN
Assalamualaikum...wr wb....
“... Jangan kamu bersedih kerana sesungguhnya Allah bersama kita...”
(Surah At-Taubah 9, Ayat 40).
Sedikit luahan rasa yang terbeku di dalam hatiku sejak 2 pekan ini, hidup ni memang terlalu banyak dugaan dan memerlukan banyak pengorbanan. Aku selalu mengingatkan diri aku untuk sentiasa sabar menghadapi apa pun dugaan yang mendatang dan ikhlaskannya kerana Allah, aku berpegang teguh pada janji Allah s.w.t bahawa Dia tidak akan memberi ujian kepada hambaNya sekiranya hambaNya tak mampu untuk menghadapinya. Maksudnya, setiap ujian yang datang itu pasti mampu aku hadapi, cuma bagaimana caranya saja.. Sebab tu lah, apa sahaja dugaan yang datang pasti ada hikmah disebaliknya dan aku harus sabar menghadapinya. Seringkali aku menasehati sahabat aku tentang perkara seumpama ini namun terkadang aku sendiri yang hampir mengalah dan berputus asa dengan berbagai ujian yang mendatang. Tapi... apabila aku bermuhasabah, aku menjadi semakin yakin dan aku redha dengan segala ujian yang datang. InsyaAllah... Segala-galanya ada sebabnya yang tersendiri yang aku sendiri tak tahu apa sebabnya, hanya Allah yang lebih mengetahui segalanya. Apa yang mampu aku lakukan adalah sentiasa berdoa, berusaha, selebihnya menyerahkan segala-galanya kepadaNya yakni bertawakal kepadaNya.
Jika ditimpa berbagai ujian dan dugaan, aku lebih senang memendamkannya di dalam hati dan mengadu kepada Sang Pencipta. Tetapi kadang-kadang ada masanya, aku juga akan mencurahkan rasa bersama keluarga atau sahabat baikku, namun ianya hanyalah antara daripada apa yang aku rasa dan terlalu jarang aku lakukannya kerana sebenarnya aku adalah seorang yang amat perahasia dan tidak ingin menyusahkan siapapun atas apa yang menimpaku, hanya kepada Ilahi aku yakin untuk meluahkan 100% apa yang aku rasa. Berat rasanya ujian yang datang kali ini, Ya Allah, kuatkanlah aku untuk menempuhinya dan teguhkanlah hatiku untuk melawannya, semoga aku akan berpegang teguh kepada prinsipku dan mengikut syariatMu.. Jauhkanlah aku daripada perkara-perkara yang tidak baik sesungguhnya aku berlindung sepenuhnya hanya kepadaMu. Aku tahu Engkau sentiasa bersamaku, tabahkanlah aku Ya Rahman Ya Rahim, hanya kepadaMu aku sembah dan hanya kepadaMu aku memohon pertolongan, sesungguhnya aku hanyalah insan yang lemah yang tak pernah terlepas daripada melakukan kesalhan, ampunkanlah dosa-dosaku, dosa kedua ibu bapaku, dosa adik beradikku, dosa keluargaku, dosa sahabat-sahabatku, dan dosa seluruh umat Islam yang lain..
Sedikit semangat untuk diri aku sendiri dan juga siapa saja yang sedang menghadapi ujian semuanya berdasarkan Al-Quran. Sesungguhnya Al-Quran itu adalah panduan kita yang terbaik, segala-galanya ada di dalam Al-Quran, betapa indahnya Al-Quran itu. Semuanya terletak pada diri kita sendiri untuk mendalaminya.
KITA BERTANYA: KENAPA AKU DIUJI?
AL-QURAN MENJAWAB
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan; "Kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta."
(Surah Al-Ankabut, Ayat 2-3)
KITA BERTANYA: KENAPA AKU TAK DAPAT APA YANG G AKU IDAM-IDAMKAN?
AL-QURAN MENJAWAB
"Boleh jadi kamu membenci sesuatu padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu, Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui."
(Surah Al-Baqarah, Ayat 216)
KITA BERTANYA: KENAPA UJIAN SEBERAT INI?
AL-QURAN MENJAWAB
"Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya."
(Surah Al-Baqarah, Ayat 286)
KITA BERTANYA: KENAPA RASA FRUST?
AL-QURAN MENJAWAB
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah pula kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi darjatnya, jika kamu orang-orang yang beriman."
(Surah Al-Imran, Ayat 139)
KITA BERTANYA: BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
AL-QURAN MENJAWAB
"Wahai orang-orang yang beriman! Bersabarlah kamu (menghadapi segala kesukaran dalam mengerjakan perkara-perkara yang berkebajikan), dan kuatkanlah kesabaran kamu lebih daripada kesabaran musuh, di medan perjuangan), dan bersedialah (dengan kekuatan pertahanan di daerah-daerah sempadan) serta bertaqwalah kamu kepada Allah supaya, kamu berjaya (mencapai kemenangan)."
KITA BERTANYA LAGI: BAGAIMANA HARUS AKU MENGHADAPINYA?
AL-QURAN MENJAWAB
"Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan jalan sabar dan mengerjakan sembahyang; dan sesungguhnya sembahyang itu amatlah berat kecuali kepada orang-orang yang khusyuk"
(Surah Al-Baqarah, Ayat 45)
KITA BERTANYA: APA YANG AKU DAPAT DARIPADA SEMUA INI?
AL-QURAN MENJAWAB
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mu’min, diri, harta mereka dengan memberikan syurga untuk mereka… “
(Surah At-Taubah, Ayat 111)
KITA BERTANYA: KEPADA SIAPA AKU BERHARAP?
AL-QURAN MENJAWAB
"Cukuplah Allah bagiku, tidak ada Tuhan selain dari Nya. Hanya kepadaNya aku bertawakkal."
(Surah At-Taubah, Ayat 129)
KITA BERKATA: AKU TAK DAPAT TAHAN!!!
AL-QURAN MENJAWAB
"… ..dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah melainkan kaum yang kafir."
(Surah Yusuf, Ayat 87)
Wallahu’alam..
SEMOGA DENGAN ADANYA COBAAN INI SEMAKIN KUAT IMAN KITA ALLAHUMMA AMIN...........
MERENUNGLAH DAN BERSYUKURLAH
Assalamu'alaikum wr ..wb
Bila Anda selalu Mengingat semua nikmat yang telah di berikan Allah swt kepada kita, Niscaya kita akan mendapatinya meliputi diri kita, Mulaidari kebahagian atas Hingga Bagian bawah kedua telapak kaki kita, seperti kesehatan Jasmani,Keamanan.sandang Pangan, Udara , Air dan sebagainya Allah swt telah Berfirman: Dan jika Kalian Menghitung Nikmat Allah, Niscaya Tidaklah Kalian dapat mennghitung-nya"(QA.14:34)
Demikian Besar Nikmat Allah yang telah di anugerahkan Kepada kita- Anda Duniaini beserta apa yang ada di dalam-nya telah di ciptakan untuk Kita, Tetapi masih ada juga orng yang tidak menyadarinya. anda Memiliki kehidupan ,tetapai anda tidak mengetahuinya. Dan dia telah Menyempurnakan Untukmu Nikmatnya lahir dan Bathin(QS.31:20) Anda memiliki sepasang Mata,lisan,Sepasang bibir, kedua Tangan Dan kedua kaki. "Maka Nikmat tuhan kalian yang manakah yang pntas kalian dustakan?"(QS.55:13)
Apakah anda menganggap hal yang mudah berjalan dengan kedua telapak kaki anda,sementara banyak telapak kaki lain yang di Amputasi? Apakah Mudah anda bertopang Pada kedua betis anda,sementara Banyak betis lain yang di Amputasi? Apakah anda menganggap Remeh bila Anda dapat Tidur nyenyak? sementara Banyak orang lain tidak dapat tidur.karena Rasa Sakit yang di deritanya! memangnya Mudah memenuhi perut Anda dengan makanan yang Lezat dan Minuman yang sejuk, Sementara masih banyak orang yang mengalami Hambatan dalam menyantap makanan dan mereguk minumannya karena penyakit dan gangguan yang di deritanya
Pikirkanlah Pendengaran Anda yang begitu Peka; Sesungguhnya Ia terhindar dari ketulian
REnungkanlah Penghlihatan Anda yang Begitu tajam; Sesungguhnya Ia Selamat dari kebutaan.
Lihatlah kulit Anda yng begitu Mulus; Sesungguhnya Ia terhindar dari penyakit Sopak & Lepra
Perhatikanlah Akal Anda yang begitu sehat; Sesungguhnya Anda Beroleh Nikmat dengan kesehatan-nya dan tidak sengsara karena menderita penyakit Gila, atau Gangguan kejiwaan lainya
*Maukah Anda Bila Indera Pengelihatan Anda semata di tukar denagan Emas sebesar Bukit Uhud??
*Sukakah Bila Indera Pendengaran Anda di jual dengan Perak Sebesar Bukit Tsahlan???
*Maukah Anda Bila Lidah anda di tukar dengan Istana Zahra hinga Anda menjadi bisu??
*Maukah Pergelangan tangan Anda utuh di amputasi dengan Imbalan Beruntai Untai kalung Mutiara dan Yaqut Hingga Anda menjadi orang yang tidak bertelapak tangan ??
=Sebenarnya Anda dalam kenikmatan yang berlimpah dan karunia yang sangat Besar. tetapi Anda tidak menyadarinya, Anda Hidup di rundung oleh Kesusahan, Kegelisahan, Kesedihan, dan ke Dukaan, Padahal anda memiliki roti yang hangat,Air yang sejuk, dapat tidur dengan Nyenyak,dan Beroleh Kesehatan yang berlmpah. Anda memikirkan Nikmat yang tidak ada dan tidak pernah Mensyukuri Nikmat Yang ada anda terkejut karena mengalami kerugian Materi, padahal anda memiliki kunci Kebahagian, segudang kebaikan . Bakat, Nikmat, dan segala sesuatu yang lainya..........
=Oleh karena itu Merenunglah dan Bersyukurlah Anda!
=Allah swt Berfirman: Dan (juga) pada diri kalian sendiri terdapat tanda-kekuasaan Allah Maka apakah kalian tiada memperhatikan?'('QS.51:21)
Mari kita Pikirkan Diri Kita Sendiri, Keluarga Anda, rumah Anda, Pekerjaan Anda Kesehatan Anda, Teman-teman Anda, Dan Dunia yang ada di sekitar Anda; Jangan sampai Anda seperti orang orang yang disebutkan oleh Firmanya: Mereka Mengetahui bahwa semua Nikmat yang ada berasal dari Allah, tetapi Mereka mengingkarinya'' (QS. 16: 83:)
=Bukanlah Allah cukup untuk melindungi hamba-nya? ''(QS. 39:36)
Semoga Kesulitan ujian karena kurangnya Rasa syukur kita berahir denagan Keselamatan dan Mendapat jalan Keluar Bagi kami semua sehingga Musuh menjadi Mendongkol, dan Kerinduan yang menyengat Hati teman-teman Kepada Baitullah Menjadi terobati
#Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman), Qs.Al A´laa:14.) dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang. QS.Al A´laa:15.)
ya allah jauhkanlah hmba dari godaan syaton yang Engkau kutuk, agar hmba selalu berda dlm jln yang engkau ridhoi... Engkaulah Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk). QS. Al Mu'min:3.) ya allah jdiknlah hmba hmba yang soleha, agar hmba mndpatkan apa yang berada di dalam firman Mu: Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga 'Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadaNya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya. (QS,Al Bayyinah:7-8) allahumma amin.......
*Semoga Bermanfaat Untuk teman teman semuanya dan terutama untuk diriku sendiri
Note ini saya ambil dari Laa Tahzan di tulis oleh Dr. ' Aidh bin 'Abdullah Al-Qarni dan sedikit tambahn dari saya pribadi
Wassalamu'alaikum.....Wr..